• Sigaret Basah di Jalan Malioboro


    Malioboro. Nama yang sudah tidak asing lagi, baik bagi pengunjung maupun warga asli di Yogyakarta. Sebuah tempat yang menjadi ciri khas kota Yogyakarta. Sehingga, terbentuklah slogan ‘jika belum ke Malioboro, maka belum ke Yogyakarta’. Malioboro adalah nama jalan di Yogyakarta yang terbentang sepanjang 2,5 km mulai dari titik nol kota Yogyakarta, hingga Tugu Pal Putih. Terdiri dari Jalan Pangeran Mangkubumi, Jalan Malioboro, dan Jalan Jend. A. Yan. Jalan ini termasuk dalam garis imajiner Kraton Yogyakarta. Sejajar lurus dari utara, yaitu Gunung Merapi, Tugu Pal Putih, Kraton Yogyakarta, Panggung Krapyak, dan Pantai Parangtritis. 

    Disini kita dapat melihat berbagai macam objek wisata. Sekitar titik nol, terdapat monumen batik, monumen Serangan Umum 1 Maret, Museum Benteng Vredeburg, dan Istana Negara atau yang lebih dikenal dengan nama Gedung Agung. Terdapat pula berbagai karya seniman yang dipajang pada tempat pejalan kaki, sehingga melengkapi indahnya jalan Maliboro. Ke utara terdapat pasar Beringharjo, lalu Kantor Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta yaitu komplek Kepatihan Danurejan. Apabila pengunjung datang pada saat hari kelahiran Nabi Muhammad SAW, maka Kraton Yogyakarta menyelenggarakan Grebeg Maulid. Kraton Yogyakarta memberian gunungan kepada pemerintahan resmi yang berdiri di Yogyakarta yaitu Kantor Gubernur. Gunungan ini diberikan di komplek Kepatihan Danurejan, kemudian didoakan di halaman Masjid Sulthoni Kepatihan. Setelah didoakan, maka akan diperebutkan oleh masyarakat. 

    Di sepanjang jalan Malioboro juga terdapat berbagai macam kegiatan yang menjadi daya tarik wisatawan. Pada waktu siang hari, terdapat deretan pedagang kaki lima yang menjual berbagai macam barang yang menyimbolkan kota Yogyakarta. Seperti pakaian batik, asesoris, kerajinan tangan, tas-tas etnik, sandal, barang antik, dan lain sebagainya. Selain pedagang kaki lima, di kawasan jalan Malioboro juga terdapat toko maupun mall. Pada malam hari, jalan Malioboro akan menyajikan warung-warung lesehan yang menjajakan makanan khas Yogyakarta. Tempat ini sangat cocok dijadikan tempat berkumpul atau tempat nongkrong bagi kaum remaja. Bertepatan di titik nol, anda dapat melihat berbagai kostum dari karakter-karakter terkenal. Diantaranya adalah Iron Man, Bumblebee, Jin, hantu Valak pada film The Conjuring, dan lain-lain. Juga terdapat burung hantu, ular, dan musang yang dapat kita ajak berfoto dengan membayar cukup lima ribu rupiah saja. 

    Sering berjalannya waktu, jalan Malioboro mengalami berbagai perubahan. Sebagai daerah yang menjadi ikon kota Yogyakarta, pemerintah melakukan berbagai macam renovasi terhadap jalan Malioboro. Pada tahun 2015, pemerintah mengadakan proyek pembuatan Tempat parkir Portabel Taman Abu Bakar Ali (TKP ABA). Tempat parkir portabel ini dibangun sebagai salah langkah awal dalam proses penataan kawasan jalan Maliboro. Pemerintah berharap tempat parkir ini dapat menampung seluruh kendaraan roda dua yang sebelumnya menempati daerah pejalan kaki sisi timur jalan Malioboro. TKP ABA ini terdiri dari tiga lantai dengan daya tampung 2600 kendaraan roda dua dan 25 hingga 30 bus. Selain Tempat Parkir Portabel Taman Abu Bakar Ali, dilaksanakan pula proyek pembangunan atau revitalisasi trotoar sisi timur jalan Malioboro dari ujung utara Tugu Pal Putih hingga Titik Nol Kota Yogyakarta. Sehingga pejalan kaki menjadi lebih nyaman saat mengunjungi jalan Malioboro. Bangku-bangku baru dan segala macam jenis tanaman mulai menghasi ruang pejalan kaki yang sudah tidak lagi terganggu oleh parkirnya kendaraan roda dua. 

    Dengan didirikannya Tempat Parkir Portabel, dan revitalisasi ruang pejalan kaki tentunya memberikan dampak bagi masyarakat dan pengunjung jalan Malioboro. Pejalan kaki tentunya mendapatkan fasilitas yang sangat nyaman ketika berkunjung. Mereka tidak lagi terganggu dengan kendaraan yang parkir sembarangan, dan dapat menikmati suguhan pedagang kaki lima. Kursi yang diletakkan pada ruang ini pun kini menjadi objek bagi kaum remaja sebagai latar mengambil gambar. Pedagang kaki lima mendapatkan tempat yang leluasa untuk konsumennya, tidak lagi sempit. Penjualan mereka bertambah seiring dengan ruang yang menjadi nyaman pula. Namun dibalik segala ketertarikan tersebut, ternyata ada pula yang tidak begitu merasakan dampak yang signifikan terhadap perubahan yang terjadi di jalan Malioboro. Sempat saya berbicang dengan seorang penjual rokok keliling, beliau bernama bapak Wage. Beliau sudah berjualan rokok selama 27 tahun sejak 1990. Membeli stok rokok di Pasar Beringharjo ketika pagi hari, dan berjualan pada waktu siang hingga tengah malam. Berpenghasilan tiga puluh hingga lima puluh ribu rupiah perhari. Beliau menjadi saksi akan segala perubahan yang terjadi di jalan Malioboro. Menanggapi tempat parkir portabel dan revitalisasi jalan Maliboro, beliau merasa tidak mendapatkan dampak yang signifikan teradap penjualan rokoknya. Beliau mengaku bahwa perbedaan antara sebelum dan sesudah diadakan proyek pemerintah ini, tidaklah jauh berbeda. Kesenangan pengunjung menikmati fasilitas yang baru ini dilihat oleh bapak Wage. 

    Akan tetapi, beliau mengeluhkan tentang kurangnya tempat untuk berteduh ketika hujan turun. Beliau merasa kesulitan ketika mencari tempat untuk berteduh. Semenjak bapak Wage berjualan, tempat untuk berteduh menjadi masalah yang belum diselesaikan oleh pemerintah. Karena hujan, barang dagangannya yang berupa rokok tersebut sering kali kehujanan sehingga tidak dapat dijual kepada pengunjung. Kurangnya tempat untuk berteduh menjadi masalah bagi bapak Wage, pengunjung, serta pedagang kaki lima yang bertempat di jalan Malioboro. Revitalisasi memberikan atap disekitar bangku-bangku yang baru saja selesai. Tetapi atap tersebut kecil dan tidak dapat melindungi pengunjung dari derasnya hujan yang melanda jalan Malioboro. 

    Maka fasilitas yang diberikan oleh pemerintah kepada jalan Malioboro sudah cukup baik. Melihat bagaimana respon pengunjung terhadap proyek yang diadakan oleh pemerintah. Melihat bahwa jalan Malioboro merupakan ikon kota Yogyakarta, maka masalah kecil seperti tempat berteduh bagi pejalan kaki seharusnya sudah dapat diatasi oleh pemerintah. Dengan memperhatikan hal-hal kecil tersebut, maka tentunya jalan Maliboro akan menjadi destinasi wisata yang lebih menyenangkan. Bagi pengunjung serta pedagang kaki lima yang menempati jalan Malioboro.

  • 0 Komentar:

    Post a Comment

    “Overthinking the process will kill any career in the creative space. You just have to do, not think.”

    – Casey Neistat

    ALAMAT

    Nyutran, Tamansiswa, Yogyakarta

    EMAIL

    bagas@yuniarso.com

    WHATSAPP

    +62 856 XXXX XXXX

    LINE

    ID: bagasyr